web 2.0

Selasa, 21 Desember 2010

Sejarah Hari Sabat

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat YAHWEH,Elohim-mu; … Sebab enam hari lamanya YAHWEH menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya YAHWEH memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (Kel 20:8-11)
Hari Sabat (Sabbath) adalah perkara yang sangat penting di mata YAHWEH,  Elohim Pencipta seluruh alam semesta, itu nampak dari kata “INGATLAH.” Kata peringatan “INGATLAH” ini tidak terdapat di seluruh Sepuluh Perintah Elohim kecuali hanya pada perintah yang ketiga dari Sepuluh Perintah-Nya tersebut.
Hari Sabat ini merupakan awal penciptaan sistem tujuh-hari-dalam-seminggu dari kalender manusia. Itu nampak dari ayat ini, “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Elohim pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Elohim memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. (Kej 2:1-3).
Dari waktu “setelah penciptaan” (Kej 2:1-3) ke waktu Sepuluh hukum di turunkan di gunung Sinai (Kel 20:8-11) kira-kira ada rentang wanktu  2550 tahun (dengan asumsi ada 4000 tahun Setelah Penciptaan- Yahshua lahir,  Perbudakan berakhir  tahun 1450 BC).  Jadi  hari Sabat  telah ditentukan oleh Elohim  kurang lebih 2550 tahun sebelum umat Israel keluar dari perbudakan. Nabi Yeremia bernubuat atas pembuangan Israel karena pelanggaran hari Sabat (Yer 17) terjadi sekitar 600 BC.
Tidaklah mengherankan bahwa kata Sabat ini dikenal di banyak bahasa di dunia, Dr. William Mead Jones mendapaftarkan 160 bahasa yang menunjukan bagaimana periode “tujuh hari dalam seminggu” ini dikenal di dunia. Ini beberapa diantaranya:
Bahasa Inggris
Ibrani
Armenia
Persia
Yunani
Latin
Arab
Turki
Rusia
Hindustani
Malay/ Melayu
Jerman
Spanyol
The seven day
Shabbath
Shapat
Shambin
Sabbaton
Shabbatum
Assabt
Yomessabt
Subbota
Shamba
Ari-Sabtu
Samstag
Sabado
Hari ketujuh
Sabat
Sabat
Sabat
Sabat
Sabat
Sabat
Hari Sabtu
Sabat
Sabat
Hari Sabtu
Sabat
sabat

Tahun 364 AD, Kerajaan Romawi pada pada Pertemuan Laodikia (the Council of Laodicea) membuat keputusan, “Bahwa orang-orang Kristen haruslah memelihara hari Minggu, dan bahwa jika mereka tetap bersikeras di dalam beristirahat pada hari Sabat maka mereka akan dikeluarkan dari Kristus. [Hefele, History of the Councils of the Church, vol II]. Yahshua memperingatan gereja Laodekia (Wah 3:14-22) untuk bertobat (19), sebab gereja ini telah mengusir Pemimpin Gereja-nya keluar dari lingkungannya (20).
Tahun 1610, Viginia, Amerika; hukum hari Minggu (the Sunday law) mewajibkan setiap pria dan wanita untuk beribadah pad hari Minggu, atau kena hukuman. Peringatan pertama pelanggar akan kehilangan pendapatan selama seminggu. Kedua kalinya akan mendapat hukuman yang sama ditambah pecutan/cambukan. Dan ketiga adalah kematian. Hukuman ini berdasarkan Articles, laws, and Orders, Divine, Politique, and Martial , for the Colony in Virginia pertama dikeluarkan oleh Sir Thomas Gates, Knight, Lieutenant General pada tgl 24 Mai 1610.
Abad 21, hampir setiap denominasi gereja beribadah pada hari Minggu, dan berpikir bahwa hari Sabat adalah hari Minggu. Hanya sekelompok kecil orang Kristen yang tetap beribadah pada hari Sabat (Sabtu) sesuai kebiasaan Adonai Yahshua dan rasul Paulus dan rasul-rasul lainnya.
Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh YAHWEH, Elohim-mu (Ul 5:12).
Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:31-32)
Referensi:

Source:senjatarohani.wordpress.com

Apa kata mereka tentang Advent??

Kebetulan lg browsing dan cari artikel, kemudian nemu artikel kyk gini...This will show us, what do they always think about us?? Check it...

 

Gereja Advent dan Sabat

Keywords Artikel: ADVENT, Bidat, gereja

Topic Artikel: Teologi dan Alkitab

Komunitas Umum: Teologi

Bahan dasar berasal dari Avoiding the Snare of Seventh Day Adventism, DR. David Cloud (www.wayoflife.org) Salah satu hal yang membedakan gerakan Advent dari kekristenan lainnya adalah pengajaran mereka bahwa orang Kristen harus memelihara hari Sabtu sebagai hari Sabat, sama seperti di zaman Perjanjian Lama. Hal ini perlu dinilai secara Alkitabiah, oleh karena itu, marilah kita menyelidiki apa yang diajarkan oleh gereja Advent tentang hari Sabat, lalu kita bandingkan dengan ayat-ayat Firman Tuhan. Berikut ini adalah poin demi poin pengajaran mereka yang diambil dari publikasi mereka sendiri.
ADVENT MENGAJARKAN: Bahwa hari Sabat mengikat bagi semua manusia sejak penciptaan hingga selama-lamanya. Advent mengatakan bahwa hari Sabat adalah bagi manusia secara umum dan diberikan pertama kali kepada Adam di taman Eden. Oleh karena itu, memelihara hari Sabat adalah tanda kesetiaan kepada Allah, sang Pencipta. “Allah menginstitusikan Sabat di Eden; dan selama Dia adalah Pencipta dan itu alasan kita menyembah Dia, maka demikian juga Sabat akan terus berlanjut sebagai tanda dan pengingat.... Memelihara Sabat adalah tanda kesetiaan kepada Allah” (Ellen White, The Great Controversy, hal. 386). “Sabat dipelihara oleh Adam dalam kondisinya yang tidak berdosa di Eden yang kudus; [juga dipelihara] oleh Adam yang sudah jatuh tetapi telah bertobat ketika ia diusir dari tempatnya yang senang. Ia [Sabat] dipelihara oleh semua bapa leluhur, mulai dari Habel sampai kepada Nuh yang benar, ke Abraham, ke Yakub.” (Ibid., hal. 398).
ALKITAB MENGAJARKAN:
1. Walaupun Sabat disinggung dalam Kejadian 2:2-3, peraturan Sabat tidak diberikan kepada manusia hingga diperintahkan kepada Israel di padang gurun (Neh. 9:13-14).
2. Sabat diberikan bukan kepada manusia secara umum, tetapi kepada Israel saja sebagai tanda perjanjian yang khusus antara dia dengan Allah (Kel. 31:12-17).
3. Ellen White menambahi informasi Alkitab ketika dia mengajarkan bahwa Adam dan para bapa leluhur memelihara Sabat. Alkitab sama sekali tidak menyinggung masalah ini. Bahkan, hal ini tidak mungkin benar. Jika Sabat telah dipelihara oleh manusia secara umum sejak penciptaan, maka tidak mungkin hari Sabat diberikan kepada Israel sebagai suatu tanda khusus.
ADVENT MENGAJARKAN:
Hari Sabat tetap mengikat bagi orang percaya Perjanjian Baru. “...dari sini terlihat jelas bahwa semua dari Sepuluh Hukum masih mengikat dalam dispensasi Kristen, dan bahwa Kristus tidak berpikiran mengubahnya. Salah satu perintah ini adalah pemeliharaan hari ketujuh sebagai Sabat...” (Bible Footlights, hal. 37).
ALKITAB MENGAJARKAN:
1. Perjanjian Baru adalah satu-satunya pembimbing tanpa salah mengenai bagian mana dari Hukum Musa yang masih mengikat bagi orang percaya zaman gereja. Perjanjian Baru dengan jelas mengajarkan bahwa orang percaya hari ini tidak terikat kepada hukum Sabat! “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kol. 2:16-17).
2. Menurut surat-surat Perjanjian Baru, masalah Sabat sama sekali tidak relevan bagi gereja. Dalam semua instruksi yang Allah berikan kepada jemaat-jemaat dalam surat-surat, hanya ada satu bagian yang menyinggung tentang Sabat – yaitu Kolose 2:16 – dan satu-satunya bagian tersebut hanyalah untuk menunjukkan pada kita bahwa Sabat tidak mengikat orang percaya Perjanjian Baru. Aneh sekali bahwa Surat-Surat PB hanya menyinggung “Sabat” satu kali, dan itupun menunjukkan bahwa Sabat tidak berlaku lagi, tetapi Advent begitu menekankan pemeliharaan hari Sabat. Jelas bahwa pemahaman Advent berbeda dengan para Rasul.
3. Sabat adalah tipologi atau simbolik akan hari keselamatan. “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibr. 4:9-10). Dalam Ibrani 4 ini, Sabat dipresentasikan sebagai simbolik hari keselamatan. Sebagaimana Allah beristirahat pada hari ketujuh dari pekerjaan PenciptaanNya, orang percaya hari ini akan beristirahat dalam pekerjaaan Keselamatan Yesus Kristus yang sempurna. Agar masuk ke peristirahatan Allah, seseorang harus dengan tenang menerima pekerjaan Allah dan berhenti dari usahanya sendiri. Keselamatan adalah anugerah Allah.
ADVENT MENGAJARKAN:
Hukum Sabat telah diubah, dan tuntutan yang sangat menekan dalam sistem Musa tidak berlaku lagi. Namun orang Advent tidak memelihara Sabat sama seperti tertera dalam Perjanjian Lama, tetapi mereka mengklaim bahwa itu tidak perlu karena persyaratan tentang Sabat “telah diubah.” Yang dijadikan bukti akan hal ini adalah salah satu penglihatan Ellen White. “Dalam tempat yang mahakudus, dia [Ellen White] melihat tabut yang berisikan Hukum itu, dan sangat terkejut ketika memperhatikan bahwa ‘yang keempat, perintah tentang Sabat, bersinar melebihi semuanya; karena Sabat harus dikuduskan untuk penghormatan bagi nama Allah yang kudus...’ Juga ditunjukkan kepadanya perubahan Sabat, pentingnya pemeliharaan Sabat...” (Messenger to the Remnant, hal. 34).
ALKITAB MENGAJARKAN:
1. Hukum Sabat sangatlah ketat dan keras. (1) Tidak boleh ada pekerjaan, Kel. 20:10, 31:14-15; (2) tidak boleh mengangkut barang, Yer. 17:21; (3) tidak boleh menyalakan api, Kel. 35:3. Peraturan ini hanya dapat diikuti di daerah yang beriklim lumayan hangat. Hukum tentang Sabat sedemikian kerasnya sehingga Allah memerintahkan agar seseorang yang mengumpulkan kayu untuk api dilontari batu karena ia melanggar hukum Sabat (Bil. 15:32-36). Yakobus 2:10 memberitahu kita bahwa Hukum tidak bisa dipisahpisahkan. Jika orang Advent hendak memelihara Sabatnya Hukum Musa, maka mereka harus memeliharanya persis seperti yang Allah perintahkan dalam Hukum Taurat. Pada kenyataannya, Gereja Advent tidak memelihara Sabat seperti yang tertera di Perjanjian Lama. Advent kehilangan suatu kebenaran rohani, di mana perintah-perintah yang berat dalam PL justru seharusnya membuat kita sadar akan kelemahan kita, dan memacu kita kepada seorang Juruselamat, Yesus Kristus.
2. Sama sekali tidak ada otoritas Alkitab bagi Advent untuk mengubah peraturan Sabat. Tuhan Yesus tidak mengubah Hukum. Ia mencerca berbagai tradisi Farisi yang telah ditambahkan kepada Hukum Taurat. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat. 5:17-18).
3. Ini adalah suatu contoh Advent bersandar pada salah satu “penglihatan” Ellen White, yang adalah praktek menambahkan “otoritas luar Alkitab,” padahal proses pewahyuan sudah Tuhan tutup sejak Alkitab selesai ditulis.
ADVENT MENGAJARKAN:
Karena Yesus dan para Rasul memelihara Sabat, orang Kristen juga harus melakukan demikian. “Teladan Yesus adalah jelas dan konsisten. KebiasaanNya adalah kebiasaan memelihara Sabat... Tetapi, walaupun demikian, kita menemukan situasi yang aneh hari ini karena walaupun ada Kristus sebagai teladan kita, dan Alkitab sebagai pembimbing kita, tetapi kita menemukan dua hari Sabat dipelihara oleh orang Kristen...” (George Vandeman, Planet in Rebellion, hal. 277).
ALKITAB MENGAJARKAN:
Yesus memelihara Sabat karena Dia lahir di bawah Hukum untuk memenuhi tuntutan Hukum. “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan hari takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal. 4:4-5). Tuhan Yesus dengan rela menjadikan diriNya sendiri hamba, lahir di bawah Hukum Musa, agar Ia dapat menyelamatkan orang berdosa dari kutuk dan belenggu Hukum menuju kebebasan kekal seorang anak. Yesus hidup di bawah Hukum Taurat agar orang percaya tidak perlu hidup di bawah Hukum Taurat. Hukum Taurat berhenti sampai saat Yohanes tampil (Mat.11:13).
Tidak dapat dibuktikan bahwa Rasul Paulus dan gereja-gereja abad pertama memelihara Sabat. Advent mengajarkan hal ini, tetapi ini hanyalah tebakan mereka. Benar bahwa Paulus sering hadir di Sinagog pada hari Sabat untuk memberitakan Injil kepada orang Yahudi yang berkumpul di sana. Tetapi ini tidak berarti Paulus memelihara Sabat. Paulus sendiri telah memberikan pendapatnya tentang Sabat dalam Kolose 2:16, bahwa Sabat tidak mengikat bagi orang percaya PB. Paulus mengunjungi sinagog pada hari Sabat karena dia ingin menginjili orang Yahudi yang berkumpul di sana. Sama seperti jika ada seorang yang masuk ke Mesjid hari Jumat untuk menginjil, tidak berarti dia menguduskan hari Jumat.
ADVENT MENGAJARKAN:
Gereja Roma mengubah hari kebaktian, dari Sabat menjadi Minggu pada abad keempat. Advent bersikukuh bahwa hukum Sabat tetap dipelihara oleh orang-orang Kristen hingga Konstantine, Kaisar Roma, mengharuskan semua orang untuk merayakan hari Minggu. Para pemimpin Advent melihat Konstantin sebagai tipologi anti-Kristus yang akan datang, yang menurut mereka telah membuat penyembahan hari Minggu suatu keharusan bagi semua orang. “Konstantin adalah Kaisar Roma. Dia adalah penyembah matahari, tetapi juga seorang politikus ulung. Dia ingin menyenangkan semua orang. Ketika masih penyembah berhala, ia memerintahkan bahwa semua institusi negara harus tutup pada hari pertama – “hari matahari.” Gereja, yang telah berdiri di Roma, dengan cepat melihat keuntungannya jika berkompromi dengan penyembahan berhala...jadi dalam beberapa tahun saja, hari Minggu telah mendapatkan dukungan, gereja Roma dalam Konsili Laodikia menyingkirkan perintah Allah yang jelas dan mendekritkan perubahan dari hari ketujuh ke hari pertama suatu minggu” (Planet in Rebellion, hal. 290).
ALKITAB MENGAJARKAN:
Ada banyak bukti dalam Alkitab maupun sumber lain bahwa orang Kristen awal, sejak zaman Rasul-rasul, bertemu dan berbakti pada pertama minggu, bukan pada hari Sabat.

Bukti Alkitab tentang hari pertama:

1. Yesus Kristus bangkit pada hari pertama (Mar. 16:9)
2. Yesus menampakkan diri kepada murid-murid pada hari pertama (Mar. 16:9; Mat. 28:8-10, Luk. 24:34; Mar. 16:12-13; Yoh. 20:19-23).
3. Pentakosta terjadi pada hari Minggu, hari pertama (Pentakosta adalah hari ke-50 sejak Sabat persembahan unjukan, lihat Im. 23:15-16, jadi Pentakosta selalu hari minggu).
4. Orang-orang Kristen berkumpul dan bertemu untuk berbakti pada hari pertama (Kis. 20:6-7; 1 Kor. 16:2). Hari Minggu disebut oleh orang Kristen sebagai “hari Tuhan” (Wah. 1:10).
Sejak itu, sebagian besar orang Kristen selalu berbakti pada hari Tuhan (Minggu), hari pertama. Mereka melakukan ini untuk menghormati kebangkitan Juruselamat mereka. Kristus berada dalam kubur pada hari Sabat, dan bangkit pada hari pertama. Sabat menggambarkan hari terakhir ciptaan yang lama. Minggu adalah hari pertama ciptaan baru.
Bukti Sejarah bahwa Orang Kristen Mula-Mula Berbakti Pada Hari Minggu:
Epistle of Barnabas (sekitar 100 AD): “Jadi kita juga memelihara hari kedelapan dengan sukacita, hari yang sama dengan kebangkitan Yesus dari orang mati.
Epistle of Ignatius (sekitar 107 AD): “Jangan tertipu dengan doktrin-doktrin aneh, ataupun dengan dongeng tua, yang tidak bermanfaat. Sebab jika kita masih hidup menurut hukum Yahudi, kita mengakui bahwa kita belum menerima kasih karunia.... Oleh karena itu, jika mereka yang dibesarkan di bawah peraturan lama itu, lalu mendapatkan pengharapan baru, tidak lagi memelihara Sabat, tetapi memelihara hari Tuhan, pada hari mana kehidupan kita bangkit oleh Dia dan kematianNya.”
Justin Martyr (sekitar 140 AD): “Dan pada hari yang disebut Minggu, semua yang tinggal di kota-kota atau di pedesaan berkumpul pada satu tempat, dan tulisan-tulisan para Rasul atau para Nabi dibacakan terlebih dahulu...Tetapi hari Minggu adalah hari di mana kita mengadakan pertemuan umum, karena itu adalah hari pertama Allah....menjadikan dunia; dan Yesus Kristus Juruselamat kita bangkit dari kematian pada hari yang sama.”
Berdesanes, Edessa (180 AD): “Pada satu hari, yang pertama dari satu minggu, kami berkumpul bersama.”
Tertullian (200 AD): “ Kami mengkhusyukkan hari setelah Sabtu, berlawanan dengan mereka semua yang menyebut hari ini sebagai Sabat mereka.” Irenaeus (155-202 AD): “Misteri kebangkitan Tuhan tidak boleh dirayakan pada hari lain selain Hari Tuhan, dan hal ini saja sudah mengharuskan kita merayakan Paskah pada hari itu.” Jelas sekali bahwa orang-orang Kristen telah berbakti pada hari Minggu jauh sebelum Konstantin atau abad keempat.
ADVENT MENGAJARKAN:
Gereja telah mengubah Sabat menjadi Minggu, tanpa otoritas Alkitab. “Orang-orang Kristen dari generasi-generasi yang lalu memelihara hari Minggu, sambil mengira bahwa dengan demikian mereka memelihara Sabat dalam Alkitab....” (Ellen White, The Great Controversy, hal. 394).
ALKITAB MENGAJARKAN:
Hari Minggu bukanlah Sabat; bahkan bukan hari suci. Orang Kristen tidaklah memelihara Sabat dengan cara kebaktian pada hari Minggu. Orang percaya Perjanjian Baru, yang telah diselamatkan dari keharusan Hukum Musa, bebas untuk memelihara atau tidak memelihara hari-hari tertentu, sebagaimana dia inginkan. (Tentu tidak ada orang Kristen yang bebas menjauhkan diri dari pertemuan kebaktian pada hari Minggu atau hari-hari lain, tetapi setiap orang Kristen bebas untuk ‘menghormati’ atau ‘tidak menghormati’ hari-hari tertentu). Roma 14:1-13 dan Kolose 2:16 menyatakan bahwa tidak ada hari tertentu yang harus dianggap suci atau kudus oleh orang Kristen. Bahkan Rasul Paulus sempat mengkhawatirkan keselamatan orang-orang Galatia, karena mereka masih memelihara hari-hari “kudus” tertentu! “Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia” (Gal. 4:10-11).
“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat” (Kol. 2:16).
“Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri” (Rom. 14:4-5).
Sebagai kesimpulan, pengajaran Advent mengenai hari Sabat tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab, dan merupakan bagian dari kesalahan total mereka yang tidak dapat melihat perubahan dari sistem penyembahan simbolik di Perjanjian Lama menjadi sistem penyembahan dalam Roh dan kebenaran dalam Perjanjian Baru atau ibadah hakekat. Yang paling berbahaya dari sistem pengajaran demikian adalah pengajaran keselamatan yang menggabungkan anugerah dengan usaha manusia melakukan Hukum Taurat untuk masuk Surga. Pembaca yang budiman kiranya anda dapat memihak kepada kebenaran Alkitab.***
PEDANG ROH 56, 2008
AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.
www.webkristiani.co.cc (memuat 3000 Situs Kristiani)
www.dede-wijaya.co.cc (memuat 110 Artikel)
www.dedewijaya83.co.cc (memuat 180 Artikel) Hit Counter: 5800
http://dedewijaya.blogspot.com (memuat 210 Artikel) Hit Counter: 22100
http://dedewijaya83.blogspot.com (memuat 220 Artikel) Hit Counter: 22100
http://dedewijaya.multiply.com (memuat 80 Artikel)
http://dedewijaya83.multiply.com (memuat 70 Artikel)
www.kristenfundamental.co.cc (memuat 30 Artikel Fundamental)
http://kristen-fundamental.blogspot.com (memuat 30 Artikel Fundamental)



Source:http://www.in-christ.net/artikel/teologi/gereja_advent_dan_sabat

Senin, 20 Desember 2010

Download lagu ronnie sianturi-walau seribu rebah

Lirik sdh d post....silahkan download lagunya...yang kali ini versio Ronnie Sianturi, yang nyanyi lagu 'ku tak akan menyerah' jg...

Buat download, silahkan klik di sini.

Chord Walau Seribu Rebah


Walau Seribu Rebah

Song Lyrics & Chord Walau Seribu Rebah
Ir. Welyar Kauntu
Album Walau Seribu Rebah

F               Bb/F
TIADA PERNAH KURAGUKAN
C/E               F
KASIH SETIA-MU YA TUHAN
Bb             A7
SETIAP WAKTU DALAM HIDUPKU
Dm          G7         C
TAK PERNAH KAU TINGGALKAN

F                   Bb/F
MESKI LANGIT TAMPAK SURAM
C/E                F
AWAN GELAP PUN MENGHADANG
Bb              A7
HADAPI BADAI LEWATI GELOMBANG
 Dm     G7          C       F Gm C
TAK PERNAH KAU TINGGALKAN DIRIKU

REFF :
   F                  Am
WALAU SERIBU REBAH DI SISIKU
 Bb              G/B    C
KAU TETAPLAH ALLAH PENOLONGKU
  Asus4        A         Bb D/F#Gm
WALAU SEPULUH RIBU REBAH DI KANANKU
    F/C              C         F
TAK KAN KU GOYAH S'BAB YESUS SERTAKU

Lirik Ronnie Sianturi-Ku tak akan menyerah

Ronnie Sianturi-Ku tak akan menyerah

Dalam sgala perkara, Tuhan punya rencana
Yang lebih besar dari, semua yang terfikirkan
Apapun yang Kau perbuat, tak ada maksud jahat
Sbab itu kulakukan semua denganMu TUHAN

REFF:
Ku tak akan menyerah, pada apapun juga
Sebelum ku coba semua yang ku bisa
Tetapi ku berserah kepada kehendakMu
Hatiku percaya TUHAN punya rencana



Apapun yang Kau perbuat, tak ada maksud jahat
Sbab itu kulakukan semua denganMu TUHAN

REFF:
Ku tak akan menyerah, pada apapun juga
Sebelum ku coba semua yang ku bisa
Tetapi ku berserah kepada kehendakMu
Hatiku percaya TUHAN punya rencana


Ku tak akan menyerah, pada apapun juga
Sebelum ku coba semua yang ku bisa
Tetapi ku berserah kepada kehendakMu
Hatiku percaya TUHAN punya rencana
Percaya....

Ku tak akan menyerah, pada apapun juga
Sebelum ku coba semua yang ku bisa
Tetapi ku berserah kepada kehendakMu
Hatiku percaya TUHAN punya rencana

(overtone)
Ku tak akan menyerah, pada apapun juga
Sebelum ku coba semua yang ku bisa
Tetapi ku berserah kepada kehendakMu
Hatiku percaya TUHAN punya rencana

Hatiku percaya TUHAN punya rencana...

Download lagu ronnie sianturi-ku tak akan menyerah

recommended bgt nihh...lagunya bagussss bgt....^^

bwt download, klik di sini

Free Download lagu nikita-hidupmu berharga bagi Allah

Liriknya udah sempat di post, silahkan di cek...
untuk download klik di sini

Chord Nikita-Di doa ibuku namaku disebut


Di Doa Ibuku Namaku Disebut

Song Lyrics & Chord Di Doa Ibuku Namaku Disebut
Peter B.Bilhorn - Terj E.L.Pohan
Do=D

D          G/D    D     Em    A      D
Di waktu ku masih kecil, gembira dan senang
D         F#m  Bm        E             A
Tiada duka ku kenang, tak kunjung mengerang
    Em         A    Em        F#
Disore hari nan sepi, ibuku bertelut
A    D   D7     G   Gm D/A A    D
Sujud berdoa ku dengar, namaku disebut

Reff :
G      D     E        A
Di doa ibuku, namaku disebut
    D  D7      G   Gm/Bb D/A    A     D
Di doa ibuku kudengar, ada   namaku disebut

Bait ke 2 :
Seringlah ini kukenang, di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris kusesat
Melintas gambar ibuku, sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar, namaku disebut

Chord O Holy Night

O Holy Night

Song Lyrics O Holy Night
Adolphe Adam, Chappeau De Roquemaure, John S. Dwight
C=Do

VERSE 1:
C         Em            F                 C
O HOLY NIGHT, THE STARS ARE BRIGHTLY SHINING
     C                G               C      G
IT IS THE NIGHT OF OUR DEAR SAVIOR'S BIRTH
C            Em           F             C
LONG LAY THE WORLD IN SIN AND ERROR PINING
            Em         B7             Em
TILL HE APPEARED AND THE SOUL FELT ITS WORTH
  Dm             G7               C
A THRILL OF HOPE, THE WEARY WORLD REJOICES
       Dm           G7             C
FOR YONDER BREAKS A NEW AND GLORIOUS MORN

CHORUS :
Am             Em
FALL ON YOUR KNEES
   Dm              Am
OH, HEAR THE ANGEL VOICES!
  C/G   G7     C     F
O NIGHT,   DIVINE!
 C     G7                 C
O NIGHT WHEN CHRIST WAS BORN
   G              C      F
O NIGHT,   DIVINE!
  C/G   G7            C
O NIGHT, O NIGHT DIVINE!

VERSE 2:
TRULY HE TAUGHT US TO LOVE ONE ANOTHER
HIS LAW IS LOVE AND HIS GOSPEL IS PEACE
CHAINS SHALL HE BREAK FOR THE SLAVE IS OUR BROTHER
AND IN HIS NAME, ALL OPPRESSION SHALL CEASE
SWEET HYMNS OF JOY IN GRATEFUL CHORUS RAISE WE
LET ALL WITHIN US PRAISE HIS HOLY NAME

Chorus :
CHRIST IS THE LORD
THEIR NAME FOREVER PRAISE WE
NOEL, NOEL, AND
O NIGHT, O NIGHT DIVINE
NOEL, NOEL
O NIGHT, O NIGHT DIVINE
NOEL, NOEL
O NIGHT, O HOLY NIGHT
 
Source:www.indo-tophits.blogspot.com 

Lirik lagu Karena kita-we are the reason

KARENA KITA
WE ARE THE REASON
David Meece



WAKTU KECIL KITA MERINDUKAN NATAL
HADIAH YANG INDAH DAN MENAWAN
NAMUN TAK MENYADARI SEORANG BAYI T'LAH LAHIR
BAWA KESELAMATAN 'TUK MANUSIA

REFF:
KARENA KITA DIA MENDERITA
KARENA KITA DIA DISALIBKAN
AGAR DUNIA YANG HILANG DISELAMATKAN
DARI HUKUMAN KEKAL

WAKTU PUN BERLALU DAN KITA PUN TAHU
ANUGERAH YANG AJAIB DARI BAPA
YANG RELAKAN ANAK-NYA DISIKSA DAN DISALIBKAN
DI BUKIT KALVARI KAR'NA KASIH

T'LAH KUDAPATI ARTI KEHIDUPAN
TATKALA KUBUKAKAN HATIKU BAGI-NYA
DALAM UCAPANKU, DALAM SEGALANYA
KU INGIN MEMUJI DIA... PUJI DIA...

AS LITTLE CHILDREN WE WERE DREAM� OF CHRISTMAS MORN�
AND ALL THE GIFTS AND TOYS WE KNEW WE�D FIND
BUT WE NEVER REALISED, A BABY BORN ONE BLESSED NIGHT
GAVE US THE GREATEST GIFT OF OUR LIVES

CHORUS:
WE WERE THE REASON THAT HE GAVE HIS LIFE
WE WERE THE REASON THAT HE SUFFERED AND DIED
TO A WORLD THAT WAS LOST, HE GAVE ALL HE COULD GIVE
TO SHOW US A REASON TO LIVE

AS THE YEARS WENT BY, WE LEARNED MORE ABOVE GIFTS
AND GIVING OF OURSELVES AND WHAT THAT MEANS
IN A DARK AND CLOUDY DAY A MAN HUNG CRYING IN THE RAIN
BECAUSE OF LOVE, BECAUSE OF LOVE
AND .... (REPEAT CHORUS: ......)

I FINALLY FOUND THE REASON FOR LIVING
IT�S IN GIVING EVERY PART OF MY HEART TO HIM
IN ALL THAT I DO, EVERY WORD THAT I SAY
I�LL BE GIVING MY HEART JUST FOR HIM, .....FOR HIM
AND WE ARE THE REASON THAT HE GAVE HIS LIFE
WE ARE THE REASON THAT HE SUFFERED AND DIED
TO A WORLD THAT WAS LOST, HE GAVE ALL HE COULD GIVE
TO SHOW US THE REASON TO LIVE
HE IS MY REASON TO LIVE

 


Source:www.kidung.com

Chord Karena Kita-We Are the Reason

Karena Kita (We Are The Reason)

Song Lyrics & Chord Karena Kita (We Are The Reason)
by David Meece

Do=G
G                   B        Em
WAKTU KECIL KITA MERINDUKAN NATAL
Dm7    G7     C   G       B7
HADIAH YANG INDAH DAN MENAWAN
          Em            D           Cmaj7
NAMUN TAK MENYADARI SEORANG BAYI T'LAH LAHIR
       Am             D
BAWA KESELAMATAN 'TUK MANUSIA

REFF:
G       Em    Am
KARENA KITA DIA MENDERITA
D          G
KARENA KITA DIA DISALIBKAN
Em                     Am
AGAR DUNIA YANG HILANG DISELAMATKAN
D7           G
DARI HUKUMAN KEKAL

G                  B         Em
WAKTU PUN BERLALU DAN KITA PUN TAHU
Dm7 G7     C    G      B7
ANUGERAH YANG AJAIB DARI BAPA
     Em            D               Cmaj7
YANG RELAKAN ANAK-NYA DISIKSA DAN DISALIBKAN
   Am                 D
DI BUKIT KALVARI KAR'NA KASIH

Back to Reff

  Eb         Bb
T'LAH KUDAPATI ARTI KEHIDUPAN
    Bbm                    Ab
TATKALA KUBUKAKAN HATIKU BAGI-NYA
    Abm      Eb           Cm
DALAM UCAPANKU, DALAM SEGALANYA
F        Bb     E
KU INGIN MEMUJI DIA... PUJI DIA...

Lirik lagu Nikita-HidupMu berharga bagi Allah

This is one of my favourite song..Check it:

Hidupmu Berharga Bagi Allah
Tiada Yang Tak Berkenan Di Hadapan-Nya
Dia Ciptakan Kau S'turut Gambar-Nya
Sungguh Terlalu Indah Kau Bagi Dia

Dia Berikan Kasih-Nya Bagi Kita
Dia T'lah Relakan Segala-Galanya
Dia Disalib 'Tuk Tebus Dosa Kita
Kar'na Hidupmu Sangatlah Berharga

Reff:
Buluh Yang Terkulai Tak Kan Dipatahkan-Nya
Dia 'Kan Jadikan Indah Sungguh Lebih Berharga
Sumbu Yang T'lah Pudar Tak Kan Dipadamkan-Nya
Dia 'Kan Jadikan Terang Untuk Kemuliaan-Nya

Penahbisan GMAHK Kartasura

Say thank's to GOD...
Pembangunan GMAHK Kartasura sudah selesai dengan baik...melalui berbagai cobaan akhirnya jadilah gereja yg sekarang...(foto menyusul)
Penahbisan akan diadakan hari Kamis tanggal 23 Desember 2010... Akan diundang + 300 tamu.. Ada pendeta-pendeta yang pernah melayani di GMAHK Kartasura, dan lain-lain...
Tidak ada yang bisa di ungkapkan...Kami memulai dengan iman, tanpa memiliki materi..Tapi yang luar biasa, TUHAN membuktikan bahwa DIA yang berkuasa...
Gereja yang dibangun adalah milik TUHAN, dan TUHAN tidak biarkan rumahNya dibangun dengan usaha keras para jemaat saja.. DIA ikut campur tangan... Bahkan yang lebih luar biasa, DIA menyelesaikan semua proses pembangunan dengan selesai..
Kalau bukan TUHAN yang ikut campur tangan, maka sia-sialah semua usaha...

Senin, 22 Maret 2010

Apa anggapan orang lain tentang ADVENT?

HATI-HATI!!!Skg semua orang seakan nge-judge bahwa orang advent adalah orang-orang yang "gak bener". So, what can we do? Just wait and see....Tunggu dan lihat...Tapi jangan lp, tetap berusaha jadi orang-orang yang menghasilkan buah roh..mulai dari kebaikan, murah hati, dll....Cb anda search di google, cari pendapat orang lain tentang GEREJA ADVENT...Jangan kaget, banyak yang menghujat kita....opppssss....Semua manusia punya hak untuk berpendapat, jadi wajar kalau mereka bilang gt......Nah, yang plg ptg adalah, tetap jadi orang Kristen yang baek...bukan cuma Kristen KTP!!

LET'S START AGAIN!!!!

Beberapa kali, aku (admin) udah vakum dalam hal tulis-tulis di blog. Aku menyerah untuk membantu pencarian dana bagi GMAHK Kartasura. Tapi aku sadar, WE DO THE BEST AND GOD DO THE REST... Jadi aku gak perlu takut. Yang penting aku berusaha keras membantu pencarian dana... Dan sisanya, serahkan sama TUHAN. Aku yakin TUHAN akan memberikan pertolongan melalui tangan-tangan orang lain yang banyak tersebar di dunia...hehehehehehehe......SO, aku masih berharap da yang mau membantu gereja ku....(^_^)...GBU ALL...

Senin, 01 Februari 2010

I cried for my brother six times

Ini adalah cerita "Aku menangis untuk adikku 6 kali" dalam versi Bhs.Ing

(This is my translation of the Chinese piece, 我为弟弟哭六次 )




My home is in a remote mountain village. Both my parents are peasants who face the yellow soil with their backs to the sky. I have one brother, three years younger than I.



Once, to buy a handkerchief that all the girls had, I stole fifty cents from father’s drawer. Father noticed the missing amount that very day. He made my brother and I kneel before the wall. With a bamboo stick in hand, he ordered us to confess. I was stupefied by the situation, and kept my head down, too afraid to speak. Father heard no confession, so he said, “Well then, you both deserve this beating!” He raised the bamboo stick high. Suddenly, my brother clutched onto his hand and spoke loudly, “Dad, I was the one. It had nothing to do with sister. You can punish me.”



The long stick in father's hand fell ruthlessly on my brother’s back and shoulders. Father was so angry, that he kept on whipping until he ran out of breath. Afterwards, he sat on our brick bed and scolded, “Now that you've learned to steal from home, what disgrace will come of you later? The disappointment that you are! I will beat you to death! ”



That night, mother and I held my brother in our arms. Bruises covered his body, but he did not shed a single tear. Halfway through the night, I suddenly started weeping aloud. My brother covered my mouth with his little hand and said, “Sister, don’t cry now. The beating is already over.”



I’ve always hated myself for not having the courage to come forward. Many years have passed, but the incident remains fresh in my memory. I can never forget the way my brother shielded me from that bamboo stick. That year, my brother was 8 years old. I was 11.



When my brother was in his last year in junior high, he was admitted to a prominent senior high in the county. At the same time, I was accepted by a provincial university. That night, father squatted in the yard, smoking his dry tobacco, bag after bag. I heard him mutter, “Both our kids made such a good showing... such a good showing...” Mother wiped down her tears behind our backs, and sighed, “What use is it? How can we afford the expenses?”



Just then, my brother walked up to my father and said, “Dad, I don’t want to go to school anymore, have read enough books anyway.” Father slapped my brother on the face. “Why are you so short of spirit? Even if I must sell everything that stands in this house, I’ll get you two through your schooling!” Right away, he went to knock on every household in the village to borrow money. I passed a hand as softly as I could across my brother’s swollen face, and said, “A boy has to keep up his studies; otherwise he’ll never leave this poor ravine.” I, on the other hand, had already decided to give up university.



Who knew the next day, before the break of dawn, my brother left home with some ragged clothes and a few dried out buns. He sneaked by my bed and left a slip by my pillow: “Sister, getting into a university isn’t easy. I’ll go find a job and send you money.” I held on to that slip on my bed, and wept until I lost my voice. That year, my brother was 17. I was 20.



With the money that father borrowed from the entire village, and the money my brother earned by moving cement in construction sites, I finally got to third year. One day, I was studying in my room when a classmate came in to announce, “There’s a villager looking for you outside!”



Why would there be a villager looking for me? I went out, and saw my brother from a distance, his body in a shabby overall covered in cement and sand. I asked him, “Why didn’t you tell my classmates you were my brother?” He replied, smiling, “Look at how I am dressed. If I tell your classmates that I am your brother, wouldn’t they laugh at you then?”



My nose tingled, and tears trickled down. I wiped the dust off my brother’s overall, and choked on my words, “You are my brother to begin with! I don’t care what anyone says or how they laugh! You are my brother no matter how you dress!”



From his pocket, he took out a butterfly-shaped hair clip that was wrapped carefully in a handkerchief. He sized it up against me, and went on to explain, “I saw all the city girls wearing this. So, I thought you too should have one.” I couldn’t hold back any longer. I pulled my brother into my arms and cried and cried. That year, he was 20. I was 23.



The first time I brought my boyfriend home, the window panes which were broken for so many years had been replaced. Inside our home, it was spotless everywhere. After my boyfriend left, I danced like a little girl before my mother. “Mom, you really didn’t have to spend so much time cleaning out our house!” Mother had aged. Her face was like a chrysanthemum when she smiled. She said, “It is your brother who came back early to clean up the place. Did you see the cut on his hand? He got it when he was installing the new window panes.”



I went inside my brother’s little room. Looking at his slender face, my heart ached. He smiled at me and said, "This is the first time you've brought your friend home. He is a university student from the city. Wouldn't want to give him any reasons to think poorly of us."



I applied some medicine to his wound. “Does it hurt?” I asked him. “No. It's nothing. When I work on the construction site, rocks fall onto my feet and swell them up so much that I can no longer wear shoes. Even that doesn’t stop me from work and...” Halfway through, he stopped speaking. I turned my back to him, and tears streamed down my face. That year, my brother was 23. I was 26.



When I got married, I lived in the city. Many times, my husband and I invited my parents to come and live with us, but they never agreed. They said, once leaving their village, they wouldn’t know what to do. My brother disagreed too, saying, “Sister, take care of your parents-in-law instead. I’ll look after mom and dad over here.”



My husband became his factory’s director. We wanted to get my brother a job in the factory as a manager in the repairs department. But my brother declined. He insisted on starting out as a repairs worker.



One day, while on a ladder fixing a wire, my brother got shocked by electricity, and became hospitalized. My husband and I went to visit him. Seeing the white plaster cast on his leg, I grumbled, “Why did you refuse to be a manager? Managers will never have to do anything this dangerous. Look at you now, such a serious injury. Why didn’t you listen to us earlier?”



With a serious look on his face, he defended his decision. “Think for brother-in-law -- he just became a director. I on the other hand, hardly have an education. If I became a manager just like that, think of the problems that he would have to face."



My husbands’ eyes filled with tears, and along came my broken words: “But your lack of education was all because of me!” My brother pulled my hand into his. "Why mention the past?" That year, my brother was 26. I was 29.



The year my brother turned 30, he married a peasant girl from a village. During his wedding, the host of ceremony asked him, “Who do you respect and love the most?” Without even thinking he responded, “My sister.”



He went on to recount a story that I could not even remember. “When I started going to elementary school, it was in a different village. Every day, my sister and I had to walk an hour to get home. One day, I lost one of my mittens. My sister gave one of hers to me. She had just one mitten on and walked all that distance. When we went home, her hand was so taken by the freezing cold that she could not even pick up her chopsticks. Since that day, I have vowed, that for as long as I live, I will look after my sister and be good to her.”



Applause inundated the room. All the guests turned their eyes to me.



All I could say was, “In my life, the person I am most thankful of is my brother.” And in this happiest of occasions, in front of this celebrating crowd, tears raged down my face like rivers.

Selasa, 26 Januari 2010

Aku menangis 6 kali untuk adikku

Ini adalah sebuah cerita yang cukup panjang dan wajib di baca. Cerita ini mengisahkan kasih sayang yang begitu dalam dan tidak ada habisnya...


"Aku Menangis 6 kali untuk adikku"
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang
sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya
membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk
berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya!"


Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas
ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang,
hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai
mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"


Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia
tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."


Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak
pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun.
Aku berusia 11.


Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat
kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan
menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bias membiayai keduanya sekaligus?"


Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku
pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.


Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan
beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping
ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran
sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut
semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan,
"Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"


Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,
seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya,
"Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan
mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"


Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku
semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu
adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."


Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku,
dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih
di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat
luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."


Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak
menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.


Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang
tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan,
sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."


Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan
sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.


Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat
sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi
manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya,"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya
berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu

dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan
berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang

begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama
saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."


Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima
kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai

Rabu, 20 Januari 2010

Filosofi wortel, telur dan kopi...

Coba rebus wortel dlm suatu panci, telur dalam panci yang berbeda, dan kopi dalam panci yang berbeda pula... lihatlah apa yang akan terjadi...:
1. Wortel:
Wortel yang awalnya keras, setelah di rebus, perlahan-lahan akan menjadi lunak. anggaplah wortel itu diri kita. Terkadang di dalam hidup kita, kita akan mengalami banyak masalah. Mungkin awalnya kita akan merasa mampu dan kuat seperti wortel yang belum direbus, keras. Namun, perlahan-lahan tapi pasti, kita akan menjadi lemah, lembek, seperti wortel yang sudah di rebus. Kita akan menyerah begitu saja.
2. Telur
Jika telur direbus, maka telur yang awalnya lunak/cair akan berubah menjadi keras. Anggaplah telur itu sebagai diri kita. Dalam menghadapi masalah, mungkin awalnya kita bisa sabar menghadapinya seperti telur yang lunak sebelum di rebus. Namun, setelah masalah itu kita anggap sangat berat, perlahan kita akan berubah menjadi pribadi yang keras, dingin, tidak berperasaan seperti telur yang sudah direbus.
3.Kopi
Sekarang, lihat pada panci dimana kopi di rebus. Pada awalnya air tempat kita merebus kopi berwarna bening, namun setelah dipanaskan, kopi merubah air menjadi hitam dan beraroma nikmat. Anggaplah kopi itu sebagai diri kita. Ketika kita menghadapi masalah, kita justru berusaha membuat masalah itu selesai, membuat masalah itu menjadi netral.


Teman-teman, jadilah seperti kopi. Jangan jadi telur atau wortel. Jangan jadi pribadi yang lembek, dan jangan menjadi pribadi yang dingin+keras+tdk berperasaan. Terkadang, di dalam hidup kita, kita akan menghadapi berbagai macam hal yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita mungkin akan menghadapi masalah yang tiada habisnya. Namun, jadilah kopi, rubahlah sekeliling anda(masalah anda) menjadi sesuatu yang kembali normal dan netral. Sekalipun masalah yang kita hadapi amat besar, tentu kita akan dapat menghadapinya. Ingat, ALLAH tidak akan memberikan cobaan lebih dari kemampuan umat-Nya. Yang penting lakukan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah, dan sisanya serahkan pada TUHAN..

Sabtu, 09 Januari 2010

Join the community!!

Join GMAHK Kartasura (Jateng), di:
a. Facebook : Gereja Advent Kartasura Jateng
b. Twitter     : GMAHKKartasura
c. Gmail       : GMAHKKartasura@gmail.com

Pembangunan sudah berjalan.....

Pembangunan GMAHK Kartasura(Jawa Tengah) sudah mulai beraksi... Sesuai dengan kesepakatan gambar awal, GMAHK Kartasura(Jawa Tengah) segera di renovasi... Sudah ada beberapa kemajuan berarti yang tampak dari pembangunan, seperti lantai 2 yang sudah mulai di buat, bagian depan gereja yang sudah mulai tampak... Mohon doa dan dukungannya